--> Skip to main content

Kekhawatirkan kelangsungan pertanian di desa

Sampurasun ..... Rampes ..... 

Blog Mang Yono. Banyak Orang  yang mengkhawatirkan kelangsungan pertanian, terutama pertanian sawah. Kekhawatiran itu antara lain disebabkan oleh biaya produksi yang mahal, lahan sawah yang semakin sempit karena pembangunan pabrik, perumahan dan lain sebagainya, termasuk para generasi muda yang enggan bekerja di sawah karena menganggap pekerjaan di sawah itu kotor, panas, tidak menguntungkan, dan merendahkan derajat, katanya gengsi kerja disawah itu.

Saya ambil contoh ungkapan kekhawatiran dituliskan salah satu majalah: Kita butuh petani! Kita butuh mereka sekarang dan akan butuh mereka di masa depan. Kita memerlukan petani untuk ketahanan pangan kita. Hanya dengan cara begitu kita dapat menyokong dan membantu melestarikan masyarakat desa.

Kekhawatirkan kelangsungan pertanian di desa yang makin sempit
Kekhawatirkan kelangsungan pertanian di desa. Poto by Aki Balangantrang. 

Baca juga : Potret pertanian yang sedang dialami Indonesia, mau dibawa kemana petani ini?.


Kekhawatiran akan kelangsungan pertanian itu boleh jadi adalah kekhawatiran kelas menengah, pembuat kebijakan dan lembaga-lembaga internasional yang menginginkan desa tetap mempertahankan fungsinya sebagai penyedia pangan untuk orang kota, mungkin mikirnya kalau orang desa sudah tidak mau menanam padi terus orang kota mau makan apa hehehe, dan melihat migrasi ke kota sebagai sesuatu yang negatif dan tidak diinginkan, banyak orang desa yang memutuskan bekerja di kota atau bahkan ke luar Negeri menjadi TKI. Kekhawatiran itu erat menyangkut perubahan-perubahan yang terjadi di desa. Jaman sekarang Budidaya padi bukan lagi merupakan arena utama yang menyerap tenaga kerja.


Dari gambaran yang pesimis mengenai masa depan pertanian seperti di atas ini, salah satu yang perlu dipahami lebih dalam adalah mengenai regenerasi para petani yang akan mengerjakan kerja-kerja pertanian. Jaman sekarang pemuda penerus pertanian di desa tampaknya juga tidak terlalu indah. Dalam konteks perubahan ekonomi dan sosial di desa, banyak pemuda desa sebagai kelompok usia produktif yang diharapkan meneruskan kerja pertanian, pada tidak mau bila untuk bekerja disawah. Seperti di tempat saya tepatnya di kampung Gardu, Desa Bendngan, Kecamatan Pagaden Barat, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Indoneia, kalau mau mencari tenaga untuk bekerja disawah sdah mulai susah eteh - etehnya sekarang pada bekerja di Pabrik - pabrik dan bekerja di Luar Negeri.


Orang untuk keluar dari desa, mungkin penting untuk menilik kepada orang-orang yang tetap bertahan hidup di desa, padahal saya sendiri bekerja di Kota hehehe, terutama generasi muda di desa mengenai apa yang mereka bayangkan tentang hidup dan penghidupan. Siapakah mereka dan apa yang membuat mereka tetap bertahan di desa sementara kerja di bidang pertanian sudah semakin terdesak dan bergeser ke non-pertanian ini dampak dari makin sempitnya sawah – sawah untk bertani. Bagaimana mereka bisa bertahan hidup di desa atuh? Apa yang disediakan oleh desa untuk mereka hidup coba?
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar
Comments
0 Comments