Siluman Buaya Sungai Cipunagara Pagaden

Siluman Buaya Sungai Cipunagara Pagaden

Dapat lagi kiriman cerita dari sobat Rendi dari Pagaden Kab. Subang, Pada bulan Mei Blog ini sudah mempublikasikan cerita  LANGIT YANG TERSENYUM ( Bagian ke 1 )  dan ( Bagian ke 2 ).   Blog Mang Yono Menerima Artikel Kiriman dari sahabat pembaca. Cerita yang masuk ke Redaksi Blog Mang Yono banyak sekali, Blog Mang Yono baru bisa mempublikasikan satu bulan 1 Cerita / kiriman sahabat, mungkin karena terbentur uang sang admin ya hehehe, karena yang dipublikasikan di Blog Mang Yono akan mendapatkan pulsa 25 Ribu, tapi sesuai cerita atau artikelnya ding hehe silahkan baca juga Kiriman Sahabat lainnya. Yuk kita simak ceritannya.

Sungai yang mengalir di sebelah timur Pagaden Subang ini memang sudah terkenal keangkerannya. Konon sungai ini dihuni para siluman buaya yang terkadang menampakkan diri dengan wujud manusia, berjalan di tepi sungai dan di jembatan yang melintasi sungai. Orang tersebut biasanya muncul menjelang petang hari. Oleh karena itu warga sekitar tidak berani mendekati sungai tersebut pada waktu Maghrib dan setelahnya. 

Siluman Buaya Sungai Cipunagara Pagaden
Siluman Buaya, Gambar ilustrasi mangyono.com


Beberapa minggu yang lalu saya mendengar cerita entah itu nyata atau Cuma hisapan jempol belaka. Sebuah cerita serem yang menceritakan tentang makhluk gaib penghuni sungai cipunagara Pagaden. Cerita ini serem banget karena membuat bulu kudukku merinding, beginilah cerita serem tersebut.

Karena lambaian tangan dari seorang gadis akupun berjalan mendekatinya. Setelah aku mendekat, dia langsung menarik lenganku dan mengajak berjalan-jalan berkeliling taman bunga yang indah dan harum mewangi, yang paling aneh tiba-tiba aku dan dia sudah berada ditengah taman bunga yang amat asri. Saat itu aku benar-benar terpesona akan kecantikan paras dan tubuh yang aduhai yang selalu bergayut manja disampingku. Tubuhnya yang menguarkan bau yang harum memabukan dan tatapan mata yang tajam mampu menghipnotis jiwa dan ragaku hingga luluh lantak tak berdaya.

Di taman nan indah dan Asri itu kami saling mengenalkan diri masing-masing

"Namaku Nawang siapa nama akang?" ucapnya mengenalkan diri sambil balik bertanya.

"Rudi saya baru di kampung dekat sini jawabku menyambut uluran tangannya sementara mataku tak lepas menatap tubuhnya yang amat sempurna dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Dimana nyai tinggal dan dengan siapa?" tanyaku ingin tahu.

"Ya inilah tempat tinggal saya, saya tinggal bersama orangtua", ujarnya sambil tersenyum manis.

 "Hah.. nyai tinggal ditaman ini?".

"Ya bukan ditaman ini, ya disana dirumah kedua orangtua", sahutnya sambil bersandar manja.

Bersamaan dia menunjuk tampak didepanku tampak bangunan megah yang belum pernah kulihat seumur hidupku. Padahal sebelumnya aku tak pernah melihat bangunan apapun disana .

“Akang Rudi sudah punya istri?? “Selidiknya ingin tahu.

“Belum, mana ada gadis yang mau sama orang seperti aku”, kataku merendah.

“Ah akang bisa aja padahal nyai juga mau jadi istri akang”, asal akang juga mau jadi suami nyai”, ucapnya terus terang.

Mendadak jantungku berdetak kencang mendengar kesungguhannya.

“Mau tidak jadi istri nyai?” Tanyanya penasaran.

“Akang ingin ketemu dulu dengan orang tua nyai”, kataku memohon.

“Kenapa tidak? Ayo ikut nyai sekarang”. Ajaknya sambil menarik tanganku beranjak meninggalkan taman bunga.

Kamipun berjalan diatas bebatuan selebar dua meter yang tertata rapih dan memanjang hingga kedepan bangunan mewah didepan sana. Dikiri kanannya ditumbuhi aneka bunga nan harum semerbak. Bak dua insane yang telah lama menjalin cinta kamipun berjalan bergandeng tangan.

Semakin dekat aku semakin terpana menyaksikan kediaman kedua orangtua Nawang. Aku sempat merasa rendah diri pasalnya jauh sekali dengan tempat tinggal orang tuaku. Melihat hak itu nawang masih tetap memaksaku masuk kedalam rumahnya. Diseberang meja tampak duduk seorang lelaki dan wanita paruh Baya yang berwajah Anggun penuh wibawa.

"Kang Rudi ini bapak dan ibuku" ujar nawang ayu mengenalkan kedua orangtuanya sambil tertunduk lesu dan rasa malu yang teramat sangat aku hanya bisa mengangguk dan dengan kelu menyebut namaku rasanya aku tak sanggup menatap keduanya kala itu aku ibarat tahanan yang menunggu vonis hakim.


“Pak, bu, ini temen nyai yang ingin ketemu namanya Rudi ucap Nawang seolah ingin menerangkan kedatangan ku.

“Dimana nak Rudi tinggal?”

“Dikampung seberang” jawabku singkat.

“Ayo jangan malu-malu...... Ayo katakan kepada bapak maksud kedatangan kang Rudi kesini “timpal nawang sambil tersenyum.

“ Ayo katakan nak Rudi” kata wanita tua itu menyuruhku bicara terus terang.

“Sebenarnya saya datang kesini untuk melamar puteri bapak dan ibu”, tuturku dengan diliputi rasa was-was.

“Kapan utusan dari keluarga nak Rudi akan dating kesini?” Tanya bapak Nawang. Dengan sepontan dan tanpa sadar aku menyebut hari tanggal dan bulan lamaran nanti. Padahal secara akal sehat mustahil aku akan melangsungkan pernikahan selain belum memiliki persediaan sebagaimana lelaki suku Sunda, aku juga tidak tahu apakah kedua orang tuaku berkenaan atau tidak.

Kemudian bapak nawang berkata yang berisi ancaman bila aku ingkar janji. Camkan nak Rudi, janjimu itu harus ditepati apa bila ingkar rohani dan jasmani mu akan berubah seperti kami.

Dan setelah mengakhiri kata-katanya tiba-tiba suasana menjadi gelap gulita. Ketika terang, wujud Nawang pun sudah berubah dari pusat sampai bagian bawah tubuhnya berubah menyerupai seekor Buaya begitu juga kedua orangtuanya. Setelah aku melihat wujud mereka yang sebenarnya, perlahan.. tubuh ku melesat terbang keatas dan tiba-tiba aku sudah berada di permukaan sungai cipunagara dengan perlahan aku berusaha berenang menepi. Dan aku ditemukan oleh warga yang memang sejak semalaman mencariku.

Aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Kata temanku yang mandi bersamaku, saat aku mandi di sungai aku tenggelam dan hilang disungai, dan saat dicari oleh warga, mereka tidak berhasil menemukanku. Mereka bingung karena mustahil ada yang bisa bertahan dan hidup didalam air semalaman.

Setelah itu aku dibawa pulang warga, setibanya dirumah aku menceritakan semua kejadian yang aku alami kepada keluargaku. Rupanya orangtuaku mempercayai dan menanggapinya dengan serius.

Akupun dibawa ke seorang kiyai, yang dianggap bisa mengobati, untuk sementara aku harus menetap dimushola sampai batas waktu yang aku janjikan kepada kedua orang tua Nawang yang waktu itu aku janjikan akan menikahi putri Nawang itu. Bila siang aku tidur dan malamnya aku berjaga sampai pagi tiba ditemani beberapa orang yang terus mengaji melantunkan ayat-ayat alqur’an sepanjang malam dan baru berhenti saat subuh tiba. Begitulah hari-hari yang bias kulalui sampai waktu dan tanggal yang kujanjikan lewat.

Setelah lewat hari perjanjian itu saya kembali kerumah, beberapa hari tinggal dirumah, tiba-tiba ada wanita cantik yang misterius yang sedang mencariku dirumah, dan saat aku dipertemukan oleh ayahku dengan wanita itu, tiba-tiba wanita itu menggelengkan kepala dan menyatakan bukan diriku yang sedang dia cari.
 


Penulis : Rendi - Pagaden. Subang
Anda Berminat menulis di Blog Mang Yono?. Untuk menyemarakkan Blog Mang Yono di dunia maya, Admin Blog Mang Yono menerima kiriman artikel dari pembaca untuk dipublish di Blog Mang Yono pada KIRIMAN SAHABAT. Bila Anda ingin mengirimkan tulisan dapat mengirimkan melalui e-mail (blogmangyono@gmail.com), bisa juga tulisan dikirim melalui pesan Facebook saya atau bisa juga tulisan diantar langsung ke Rumah saya hehehe. Anda Berminat menulis di Blog Mang Yono ? 
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar