Kesenian buhun tutunggulan di acara sunatan daerah Subang

Sampurasun ... Rampes.

MANGYONO.com – Seni buhun tutunggulan Tutunggulan mirip kegiatan menumbuk padi di atas lisung dengan halu / alu dilakukan sedikitnya yang dilakukan oleh sedikitnya empat.

Tapi sekarang Seni buhun tutunggulan sudah banyak ditinggalkan masyarakat Sunda. Tetapi di daerah saya di Kampung Gardu, Desa Bendungan Kecamatan Pagaden Barat, Subang, Jawa Barat masih ada pada acara – acara tertentu, salah satunya pada acara ngiring beas ( beras ) pada acara khitanan. 

 Kesenian buhun tutunggulan di acara sunatan 

Seni buhun tutunggulan merupakan sebuah kesenian asli masyarakat Jawa Barat yang merupakan daerah agraris. Kata tutunggulan sendiri, berasal dari kata nutu, atau bahasa Indonesianya menumbuk gabah kering hingga menjadi beras, atau dari beras menjadi tepung. Menumbuk gabah menjadi beras tersebut biasanya dikerjakan oleh ibu-ibu antara empat sampai enam orang dan ayunan halunya mengenai lisung yang menimbulkan suara khas, artinya dapat berirama, dengan tujuan agar tidak membosankan dalam menumbuk padi. 

Dari kebiasaan itulah, akhirnya muncul seni tutunggulan, bedanya ketika dimainkan tidak menumbuk padi tetapi halunya langsung ditumbukkan kepada lesung. Dari ayunan halu itu menghasilkan suara-suara sesuai dengan keinginan yang memainkannya. 

Kesenian tutunggulan dimainkan oleh enam orang ibu-ibu dan dipertunjukkan kepada masyarakat manakala terjadinya samagaha atau disebut gerhana bulan di malam hari, ataupun sering digunakan untuk menghadirkan warga agar hadir dalam acara musyawarah di balai desa. Belakangan, seni tradisional ini digunakan untuk niring beas pada acara perhajatan khitanan.

Dibawah ini ada vidio Kesenian buhun tutunggulan di acara perhajatan saya padawaktu sunatan anak saya yang sulung di daerah Subang 

........
Nah, biar gak penasaran silahkan tonton vidionya DISINI atau dibawah ini
...

...
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar