Skip to main content

Tradisi tanam padi NYEBLOK di Pagaden Barat, Subang

Sampurasun ... Rampes.

MANGYONO.com -  Di jaman modernisasi yang semakin berkembang saat ini, ketika rasa kesetiakawanan dan kebersamaan antar tetangga semakin rendah dan masyarakat semakin bersikap individualistis dan egois, bengis... Pokonya is.. iis dan is ... Hahha

Saya berusahaan mempertahankan ke khasan itu dalam menanam padi atau tandur dengan istilah “NYEBLOK” ini merupakan ajaran nenek moyang tentang makna “hidup bersosial”. Dengan saling membantu tanpa diminta. Pada saat salah satu petani terlihat akan mulai menanam padi, para tetangga pun berdatangan membantu menanam tanpa diminta dan dikomando, secara spontan tetangga itu pun turun ke sawah tanpa dibayar.... 


Tapi biar adil biasanya tandur tersebut dibagi luasnya. Nah di foto dibawah ini ada tanda untuk batas pembagian tanaman padi yang melakukan nyeblok... Tandanya berupa tanaman padi yang ditanam “KEREP” berdekatan rumpunnya.

Tradisi tanam padi NYEBLOK di Pagaden Barat, Subang
 Tradisi tanam padi NYEBLOK di Pagaden Barat, Subang

Nah, pada waktu panen tiba, si empunya sawah memberikabar dan mempersilahkan tetangga yang telah membantu tandur tadi untuk ikut panen menikmati hasil keringat mereka. Karena pada waktu tandur mereka tidak dibayar, maka pada saat panen inilah keringat mereka dibayar. Dari 6 bakul padi yang didapat, 5 bakul untuk si empunya sawah, 1 bakul untuk tetangga yang membantu itu, bahkan sering pula si empunya sawah “Ngembohan” memberikan lagi 1 bakul untuk mereka.... Itulah yang disebut bertani NYEBLOK”.

Tanda untuk batas pembagian tanaman padi yang melakukan nyeblok
FOTO : Nah di foto ini ada tanda untuk batas pembagian tanaman padi yang melakukan NYEBLOK... Tandanya berupa tanaman padi yang ditanam “KEREP” berdekatan rumpunnya.

Dengan sistem tersebut, ketahanan pangan masyarakat di desa itu dapat terjaga kuat karena rasa kesetiakawanan yang tinggi dan rasa saling membutuhkan satu sama lain. Untuk makan sehari-hari, masyarakat di desa tersebut tidak ada yang membeli beras di pasar, sebab masing-masing rumah memiliki lumbung padi sendiri-sendiri.... Hebat khan ?. Dengan adanya lumbung tersebut, kebutuhan makan mereka tercukupi hingga maa panen yang akan datang.


Namun, dengan gempuran arus modernisasi seperti sekarang, akankah sistem “Nyeblok” tersebut dapat bertahan... Atau dipertahankan ?. Ketika pemuda-pemuda desa lebih tertarik dan bangga bekerja di kota daripada menjadi petani..... #Nyindir saya nih ... Hehehe, akankah kesetiakawanan seperti itu dapat terus terjaga sampai anak cucu kita bisa merasakannya

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar