Skip to main content

Gigin penyayang ayam kampung

Sampurasun ... Rampes.

MANGYONO.com -  Gigin penyayang ayam kampung

Binatang piaraan ternyata banyak manfaatnya buat perkembangan anak kecil. Asal jangan sampai anak "melupakan" teman-teman sebayanya.

"Bunda, Bunda, tadi si Gigin bawa ayam kampung bermain. Ih, lucu, deh. Aku juga mau, ah. Boleh ya, Bun," pinta Mila, gadis cilik usia 5 tahun pada Orang tuanya

Gigin penyayang ayam kampung
 Gigin penyayang ayam kampung


Memang betul, ada anak yang penyayang binatang, tapi ada pula anak yang tak dibesarkan dalam keluarga penyayang binatang, tapi ingin punya binatang piaraan. 

"Mungkin ia menganggap, binatang itu lucu. Atau melihat temannya punya binatang, dia pun ikut-ikutan,"


Kalau saya tak memiliki binatang lain... Cuman ayam kampung saja.... Itupun ayam kampung piaraan anak - anak saya... Hehehe... Ayam kampung itu merupakan salah satu jenis ayam yang berasal dari dalam negeri atau pribumi asli ...hehehe. 

Tiap pagi dan sore "Gigin" kasih makan ayam kampung piaraannya
 Tiap pagi dan sore "Gigin" kasih makan ayam kampung piaraannya
 
Daging ayam kampung ini sangat banyak disukai hampir oleh semua kalangan masyarakat indonesia.... Tapi lain lagi dengan anak saya yang sulung... Gugum kalau makan daging ayam kampung langsung saja kulitnya bentol - bentol... Katanya sih alergi.... 

Nah, biasanya ayam kampung di budidayakan dengan cara di umbar atau dilepas, termasuk anak - anak saya juga begitu... anakan ayam kampung yang masih kecil dipiara di kandang, namun anak ayam yang sudah berumur 2 bulan langsung di umbar
Pakan untuk ayam kampung untuk pedaging sebenarnya sangat fleksibel dan mudah untuk di dapatkan dan tidak serumit kalau kita beternak ayam kampung untuk petelur. 

Pakan untuk ayam kampung pedaging berupa : konsentrat, dedak, jagung, sisa makanan dari dapur/warung, roti BS, mie instant remuk atau BS, bihun BS, dan lain lain.

Banyak orang bertanya-tanya kepada saya apakah penting memberikan kasih sayang kepada ayam-ayam yang saya pelihara?. Dengan tegas saya akan menjawabnya, ”YA”. 

Berdasarkan pemantauan yang saya peroleh selama anak - anak saya beternak ayam kampung, insting saya berkata bahwa ayam itu pada dasarnya sama seperti manusia, ia mengerti siapa yang memeliharanya, siapa yang mengurusnya, siapa yang menyediakan makannya dan siapa yang menyayanginya. 

Hal tersebut dapat saya lihat dan bandingkan dengan ayam-ayam anak - anak saya ( Gugum dan Gigin )

Ayam Gugum dan Gigin begitu pukul 7 pagi dan 5 sore begitu melihat anak saya di kandang langsung pada pulang semua dan menghampiri anak saya untuk meminta jatah makan, akan tetapi justru berbeda kalau yang datang saya yang gak pernah  mengurus dan ngasih makan ayam-ayam tersebut pada lari-lari dan seperti terlihat ketakutan melihat saya... Hehehe. 

Gigin sedang ngasih makan ayam kampung piaraannya.
Gigin sedang ngasih makan ayam kampung piaraannya. Kalau yang ngasih makan tiap hari bisa sambil ngelus - ngelus.. Beda dengan saya, boro - bor bisa ngelus, deketin aja eh, ayam kampungnya pada lari.... Hehehe.

Nah, tingginya permintaan ayam kampung menjadikan bisnis budidaya ayam kampung sangat di minati semua orang. permintaan yang tinggi ini akan berdampak sukses atau tidak seseorang dalam budidaya. ayam kampung dapat dijual dengan dua cara yaitu ayam hidup dan ayam yang telah dipotong atau dagingnya. Biasanya pasokan ayam yang telah dipotong atau dalam betuk daging dipasarkan di rmah tangga, pengepul, pasar tradisional, warung supermarket, hotel dan lain sebaganya. untuk masalah kisaran harga tergantung naik turunnya permintaan pasar. namun secara umum harga yang di tawarkan sekitar Rp 25.000,- hingga Rp 35.000 /kg.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar