Yuli Merdekawati dan Geugeusan padi

Sampurasun ... Rampes.

MANGYONO.com - Yuli Merdekawati dan Gegeusan padi

Jaman sekarang batang padi pendek-pendek. Begitu selesai dipanen lalu dirontokkan pakai mesin perontok padi atau dipukul - pukul ke alat "Gebotan". 

Dulu, tanaman padi itu tinggi-tinggi. Orang menuai padi menggunakan "etem" ani-ani. "Ranggeuyan" atau bulir-bulir padi itu lalu diikat kecil-kecil (di-“pocong”). “Pocongan” padi ini lalu diikat lagi, pakai tali yang terbuat dari bambu, menjadi ikatan besar yang disebut “geugeusan.” “Geugeusan” padi ini yang dijemur, lalu disimpan di “leuit” lumbung padi. Dan upacara adatnya biasa disebut "Ampih Pare" atau simpan padi.

Nah, lihat "pocongan" padi dalam foto di bawah ini yang dipegang bu Lurah Yuli Merdekawati, Lurah Cigadung, Subang, Jawa Barat.


Lurah Yuli Merdekawati dan pocongan padi
Lurah Yuli Merdekawati dan pocongan padi di sawah Subang, Jawa Barat


Namun, tradisi para petani, lambat laun semakin menghilang dan kini nyaris punah tergeser oleh berbagai budaya kehidupan masyarakat yang serba modern.

"Kapungkur mah, saparantos panen teh, pare sok disarimpen di leuit. Ayeuna mah bujeng-bujeng dikaleuitkeun heula. Rengse panen oge langsung bae diarical di sawah keneh ka nu sok ngalider meseran pare,"

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar