LUMDES harus dibangkitkan kembali

Sampurasun ...

LUMDES harus dibangkitkan kembali

MANGYONO.com - LUMDES (Lumbung Desa) atau disebut juga Lumbung padi atau ada yang menyebutnya dengan lumbung paceklik merupakan warisan budaya dari nenek moyang kita yang sudah terbentuk sejak ratusan tahun yang lalu yang  kini sudah mulai luntur ditelan jaman. Jarang sekali petani bahkan desa yang memiliki lumbung desa sebagai cadangan pangan saat paceklik.

Lumbung desa selain berfungsi sebagai cadangan pangan disaat paceklik juga mempunyai nilai-nilai kegotong royongan yang tinggi. Kita tau betul bahwa hidup ini harus memikirkan hari esok sehingga akan mempunyai jiwa menabung walaupun hanya berbentuk gabah. Namun jauh didalamya terkandung nilai berhemat. Petani bersama-sama menyisihkan hasil panennya sebagian dalam bentuk gabah sebagai cadangan pangan mereka disaat paceklik.

Lumbung padi MANGYONOcom dengan wajah baru
 Lumbung padi MANGYONOcom dengan wajah baru

Budaya lumbung padi kalah bersaing dengan budaya kredit bank .. Terutama "bank Emok" yang semakin menguasai keadaan. Petani disaat paceklik akan meminjam uang dari bank kemudian akan mengembalikannya disaat panen dengan tambahan bunga.

Keterpurukan petani akan  "Katurug katutuh" dengan anjloknya harga jual gabah disaat musim panen tiba yang selalu lebih rendah dibanding dengan harga jual gabah yang ditetapkan oleh pemerintah.

Keterbatasan keuangan petani akan menyebabkan ketidakberdayaan, dilematis memang. Dalam kondisi harga gabah murah yang seharusnya mereka menunda menjual hasil panen, namun mereka tidak berdaya karena kebutuhan hidup yang semakin "nyekek beuheung". Mau tidak mau akhirnya petani harus menjual hasil panennya bahkan sebelum panen kadang-kadang mereka harus melepas hasil panen mereka ke tangan tengkulak.

Bagaimanapun juga budaya lumbung desa harus dibangkitkan kembali karena ini merupakan warisan nenek moyang yang memiliki nilai luhur dan manfaat yang tinggi. Betapa pentingnya keberadaan lumbung padi sebagai penopang kesejahteraan petani di suatu desa.
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar