Tradisi munggahan, tradisi turun temurun

Sampurasun ... Rampes.

MANGYONO.com –  Munggahan Sebagai bagian dari masyrakat Sunda, saya sekeluarga terbiasa melakukan tradisi munggahan di rumah. Namun, kali ini saya gak ikut munggahan di kampung bersama keluarga... maklum kerjaan sedikit sibuk di tempat perkuliahan.. Eh, perkulian ... Hehe.

Munggahan sudah menjadi tradisi masyarakat di berbagai daerah saat menyambut bulan suci Ramadan. Menjelang puasa orang di perantauan juga  biasanya pulang kampung ( dah saya bilang saya gak bisa pulang ... Hehehe ). Berkumpul bersama keluarga. Saling berkirim makanan atau masakan dengan sanak keluarga atau tetangga. Berziarah ke makam, mandi keramasan ( diangir ).

Tradisi munggahan, tradisi turun temurun
 Tradisi munggahan, tradisi turun temurun. Foto ayam untuk munggahan, tapi gak boleh sama si kaka "Gugum "

Menurut yang saya baca di buku sunda munggahan berasal dari kata ungggah yang berarti naik undakan untuk masuk, misalnya ke rumah atau ke masjid, karena jaman dulu rumah dan masjid di Sunda berbentuk panggung. Dalam lidah orang Sunda, kata unggah sering diawali huruf 'm' hingga lumrah dilapalkan unggah menjadi munggah.

Tradisi Munggahan ini turun menurun dilakukan oleh masyarakat Sunda sehari menjelang bulan Ramadhan, acara munggahan yang biasa dilakukan oleh setiap keluarga beragam, diantaranya makan-makan di siang hari sambil kumpul bersama keluarga besar, mengundang tetangga untuk atau mengantarkan masakan / makanan ke tetangga. Tapi ada juga yang melakukan munggahan dengan cara berpiknik....

Ada kabar dari orang rumah, katanya si kakak " Gugum" pengen daging ayam, terus istri saya bilang ke si kaka... 

" Ya sudah dipotong aja tuh kak ayam jagonya"

" Jangan ah mah, biar gede dulu ayam jagonya" Kata sikaka

Ya, sudah motong ayamnya tahun depan aja ya kakak ... Hehehe. 

Si kakak " Gugum" pengen daging ayam
 Si kakak " Gugum" pengen daging ayam, tadinya ayam si Kaka mau di potong tapi gak boleh sama si kaka "Gugum "
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar