Cerita berburu burung dengan Bandring / Ketapel

Sampurasun ... Rampes.

MANGYONO.com -  Cerita berburu burung dengan Bandring / Ketapel. Ini merupakan cerita saya yang sudah puluhan tahun lamanya. Waktu itu saya berumur sekitar 10 Tahuna, kalau gak salah saya kelas 4 SD.

Berburu burung menggunakan Ketapel atau di tempat saya mah disebut “Bandring” bahasa Sunda.  Nah, amunisi utama ketapel yang saya bawa adalah batu-batu kecil yang diambil dijalanan atau sungai. Di masukan ke kantong celana jadi lumayan “Ngagurayot” kombor-kombor berat celana yang dipakai. Tak jarang celana teman saya melorot karena kebanyakan amunisi.... Hehehe.


Cerita berburu burung dengan Bandring / Ketapel
 Cerita berburu burung dengan Bandring / Ketapel

Ketapel yang kami buat, di ambil dari potongan ban dalam bekas (karet) dan kulit sandal yang tak terpakai, sedangkan untuk pegangannya memekai potongan bambu atau kayu , bahkan ranting yang bercabang pun jadi. Saya lebih suka pegangan yang terbuat dari kayu. Namun semakin maju jaman, ketapel yang kami buat berubah yaitu dengan menggunakan pentil ban sepeda yang double. Nah, disini saya bisa membandingkan regangan dari karet ban dalam bekas lebih panjang dan kekuatannya lebih kuat dibandingkan pentil ban sepeda. Kegunaanya juga berbeda, karet sasarannya untuk burung-burung besar dan pentil untuk burung-burung kecil.... Kalau pakai karet pentil sepertinya kurang nonjok ... Hehehe.

Kawan berburu burung namanya Cardik meskipun usianya bertaut jauh dengan saya, tetapi boleh dikatakan dia guru saya dalam berburu.... Guru itu gak memandang umur loh... Hehehe. Dengan ketapelnya dia mengajari saya melesapkan amunisi / kerikil kecil. Pelajaran pertama yang diberikan dengan sasaran buah rambutan. Lumayan, tidak perlu memanjat untuk mengambilnya. Kalau saya harus memasukkannya dalam tipe-tipe guru, dia termasuk guru yang kejam, yang senantiasa menaikkan standar ujian muridnya.... Hehehe.

Setelah berhasil menjatuhkan rambutan, ujian ditingkatkan. Kini sasarannya sebuah target bangunan kecil letaknya sekitar 20 meter dari tempat kami bersembunyi. Bangunan itu adalah ... “Kakus” toilet umum di atas sungai menggunakan anyaman bambu  / bilik, tapi sebagian menggunakan dinding seng... Saya harus mengarahkan kerikil pada bagian yang terbuat dari seng.

Sekarang saya tahu pasti sangat mengesalkan dan jengkel sekali kalau kita sedang melaksanakan buang hajat tetapi ada yang mengganggunya. Setelah target terkena.... brak bunyi dinding seng terkena amunisi kerikil saya. Saya biasanya mendengar umpatan dari dalam dan kadang seseorang cepat-cepat muncul dari tempat sambil mencari pelaku penyerangan. Kami pun menahan tawa dari balik rimbunan semak-semak..... Hahaha.

Setelah usia semakin beranjak dewasa saya sering pergi ke banyak tempat untuk berburu. Burung perenjak yang gesit irit ... Ups, gak pakai irit ...Haha, berwarna-warni, dan biasanya ada di bagian pohon benalu serta hidup berpasangan menjadi sasaran utamanya. Ada semacam penilaian secara tidak tertulis di antara anak-anak di desa kami. Burung pipit nilainya 7, burung perenjak 8 dan burung yang lebih gesit nilainya 9.

Berburu dengan menggunakan ketapel sudah menjadi hal yang biasa saya lakukan, meski itu sudah lama berlalu... Sudah puluhan tahun... tapi masih melekat di ingatan saya. 

Itulah cerita berburu burung dengan bandring atau Ketapel...

Baca juga cerita berburu lainnya :  
Cerita berburu telur burung Pipit, Anak burung, Sarang burung pipit
Cerita berburu burung dengan Bandring / Ketapel 
Cerita Berburu burung puyuh di kebun

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar