Wawancara : Mang Yono Merantau ke Jakarta Oleh Reporter Cantik Melisa Mailoa dari detik.com

Sampurasun ...

Wawancara : Mang Yono Merantau ke Jakarta Oleh Reporter Cantik Melisa Mailoa dari detik.com

MANGYONO.com - Di sela kerja, ada Jurnalis dari detik.com yang ngewawancarai saya tentang cerita ngerantau ke Jakarta.

Dalam wawancara tersebut, wartawan cantik Melisa itu menanyakan soal asal saya dari daerah mana, mulai kapan ngerantau ke Jakarta sampai dengan pekerjaan saat ini. Mendapat pertanyaan itu, Gue... eh, gue... saya menceritakan .... 

"Saya adalah salah satu pendatang datang dari daerah untuk ikut berebut bongkahan berlian di Jakarta. Saya dari keluarga tak mampu. Ayah saya meninggal sa'at saya baru umur 3 tahun, dua tahun kemudian, disusul dengan meninggalnya ibu saya, jadinya saya seorang yatim-piatu yang tumbuh besar yang diurus oleh kakek dan nenek. Dulu rumah saya waktu kecil di Kampung Gardu, Desa Bendungan, Kecamatan Pagedan Barat, Subang, Jawa Barat. Kalau pas hujan, air hujan masuk semua ke dalam rumah, bahkan sempet kebanjiran.

Wawancara : 
Mang Yono Merantau ke Jakarta 
Oleh Reporter Cantik Melisa Mailoa dari detik.com

 
Alhamdulillah kakek dan nenek saya bisa menyekolahkan saya hingga lulus dari Sekolah Teknik Menengah Negeri Purwakarta pada tahun 1996 walau dengan susah - payah, kakek hanyalah seorang tukang tembok bangunan, demi menambah uang saku sekolah tak jarang saya ikut bantu - bantu Guru di bengkel sekolah STM .. Lumayan bisa numpang makan geratis dan pulannya dikasih uang sama pak Guru. Saya sekolah seadanya saja. Seragam sudah lusuh, tas sekolah jelek, bolong-bolong pula…. Cewek tak ada yang mau dekat-dekat dengan saya,... Kadang kalau gak bawa uang ke sekolah kalau haus, saya minum air mentah dari sumur sekolah, sambil clingak - clinguk malu kalau ada yang lihat.... 

Setelah saya lulus sekolah STM tahun 1996 saya langsung ke Ibu Kota Jakarta. Saya bertekad ingin merubah hidup keluarga lebih baik dengan berbekal ijazah STM..... Ternyata di Jakarta gak se'enak yang saya bayangkan. Untuk bertahan hidup di Jakarta, segala macam pekerjaan saya ambil... Saya masih ingat gaji pertama saya sebagai kuli di proyek sebesar Rp 200 ribu per bulan, kalau di pikir gaji segitu mana cukup ya.. Untuk itu supaya irit ongkos, saya tidur di bedeng proyek.

Menurut saya ..... Kadang Jakarta itu memang kejam... Lebih kejam dari Ibu Tiri, kata Ateng dan Ishak mah... Hehehe, tapi Jakarta juga memberi tempat bagi para perantau yang bersedia banting tulang dan memeras keringat.. Di Jakarta itu kalau gak mau bekerja, bisa - bisa jadii gembel. Jadi apapun pekerjaannya asal saya bisa dan sanggup mengerjakannya saya ambil... Selama lebih dari 20 tahun menjadi perantau di Jakarta, saya tak gengsi mengerjakan apa pun. Yang penting anak, istri, dan kakek-nenek di kampung bisa makan dan bisa bersekolah... La wong orang kampung taunya di Jakarta kerja enak, ongkang - ongkang kaki, seruput kopi, depan komputer dapet duit.. Gak taunya keringet dari ubun - ubun sampe ujung kaki... Hahaha.
 
Dari mulai tahun 1996 sampai sekarang saya bekerja di perusahaan kontraktor milik keluarga. Alhamdulillah sekarang saya merangkap banyak pekerjaan... "Sagala dicabak" ... Hahaha. Banyaknya pekerjaan yang diberikan kepada saya justru ini adalah peluang bagi saya untuk belajar banyak hal.

Di awal tahun 2013 di sela-sela waktu luang sepulang kerja, saya mulai menulis di blog. Mulanya saya coba - coba, iseng - iseng menulis ..... Ngeblogg sekarang ini malah jadi sumber tambahan penghasilan bagi saya. Dari iklan Google yang dipasang di blog mangyono.com, setiap bulan dapet Gajian dari Google.. Pake dollar lagi... Hehehe

...******.....

Nah, biar gak penasaran silahkan baca ya cerita saya ngerantau ke Jakarta hasil wawancara jurnalis Cantik detik.com yang diposting di ...


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar