logo blog
Selamat Datang Di Blog Mang Yono
Terima kasih atas kunjungan Anda di Blog Mang Yono,
Blog Mang Yono adalah Blog Pribadi yang menulis tentang Cerita dan pengalaman Mang Yono serta Artikel dan Budaya.
Semoga apa yang saya tulis di Blog ini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Tradisi adat Menanam padi di Subang

Sampurasun ..... Rampes .....

Blog Mang Yono. Tradisi adat Menanam padi di Subang, Jawa Barat. Seperti Petani semi modern di Subang sudah tidak lagi mengandalkan mantra atau jampi - jampi dan sesajen untuk mengusir hama, mereka kini sudah mencampurnya dengan obat-obatan kimia. Terlebih lagi untuk yang bukan petani, betapa repotnya bahkan tak tahu betapa beras merupakan bahan makanan pokok yang paling repot untuk diproduksi.

Tidak semua dari kita tahu dan mau tahu soal mantra jampi – jampi dan sesajen. Namun saya percaya, alam punya intelijensi luar biasa yang mampu memahami niat dan isi hati kita tanpa batasan bahasa dan cara serta gaya.

Tradisi adat Menanam padi di Subang
Saya masih ingat waktu saya masih kecil, acara – acara upacara mitembeyan ngaruat bumi, yang dilaksanakan di kampung Gardu, Bendungan, kecamatan Pagaden Barat, dulu masih bagian dari Kecamatan Pagaden. Kegiatan yang dilaksanakan, merupakan tradisi masyarakat yang dilakukan sebelum menanam padi di sawah yang dimiliki oleh masing-masing petani, sehubungan musim penghujan sudah mulai mengguyur tanah yang akan dijadikan sebagai lahan untuk bercocok tanam padi. Kegiatan mitembeyan dan ngaruat bumi adalah kegiatan yang selalu dilakukan saat akan menanam padi. Karena hal tersebut merupakan warisan yang diturunkan dari para pendahulu di kampung tersebut.

Baca juga : Upacara Ruwatan Bumi di Kampung Gardu 2, Pagaden Barat, Subang

Pada waktu saya masih kecil, dalam bercocok tanam padi di ladang (huma) ataupun sawah, petani di Tatar Sunda berlandasan kuat pada pengetahuan ekologi tradisional, seperti tentang iklim. Pada umumnya iklim dikenal dalam tiga tingkatan, yaitu iklim tahunan, bulanan dan harian. Iklim tahunan dibedakan menjadi dua kategori utama, yakni musim hujan / usum ngecrek / usum rendeng (usum hujan atau usum ngijih) dan musim kemarau  / usum katiga (usum halodo).
Padi berbunga
Sementara itu, iklim dalam setahun disusun dalam 12 mangsa, yaitu kasa, karo, katiga, kapat (sapar), kalima, kanem, kapitu, kadalapan, kasanga (kasalapan), kadasa (kasapupuluh), desta (hapit lemah), dan sada (hapit kayu). Dalam pranata mangsa, tiap mangsa menggambarkan pengetahuan tentang kondisi iklim, seperti keadaan angin, temperatur udara, kelembaban, curah hujan, dan berbagai indikator di alam. 

Di awal penggarapan sawah di kampung saya senantiasa diadakan upacara mitembeyan oleh segenap warga desa. Upacara tersebut merupakan pertanda bahwa warga telah menyepakati waktu yang sesuai untuk bercocok tanam padi, antara lain dengan didasarkan pada hasil indikasi rasi bintang wuluku.

Keuntungan dari kekompakan petani dalam menentukan waktu tanam padi, seperti dapat mengendalikan hama dan mengatur kecukupan air irigasi dari kawasan hulu hingga hilir.

Ruwatan Bumi yaitu Rasa syukur warga akan hasil panen yang melimpah di tahun ini,. Tujuan dari Ruwatan Bumi Bukan bermaksud berfoya-foya, pesta adat demikian memang sudah turun temurun dilakukan oleh warga desa.

Ratusan warga menari-nari diiringi alunan tembang sunda lengkap dengan tabuhan kendang, sambil mengarak keliling kampung bahkan keliling desa, beberapa macam hasil tani yang dirangkai menjadi rumah-rumahan dan tumpeng.

Di sepanjang jalan itu pula, berjajar hasil panen sayuran, buah atau hasil dari tanaman palawija lainnya. Gadis-gadis desa dengan dandanan menor seolah merayu para penonton melalui liukan tubuh ala goyang jaipong, sementara di barisan belakang arak-arakan, tampak kontras beberapa 'bebegig' atau boneka pengusir burung di sawah yang didandani menyeramkan juga ikut bergoyang.

Sementara itu tetua kampung atau kepala desa duduk di atas sisingaan yang dibopong "Kegiatan ini adalah ungkapan rasa syukur kami. Selain itu kegiatan ini juga untuk menggali potensi budaya leluhur di desa kami yang sudah dimulai sejak dahulu sampai sekarang, Sebagai suku Sunda, kita juga wajib melestarikan derajat budaya sunda pada umumnya di Kabupaten Subang" kata Kepala desa Bendungan, pagaden barat. Itulah sedikit cerita tentang upacara menanam padi yang saya ketahui di kampung saya.

Terima kasih atas kunjungan Anda di Blog Mang Yono,..... "Anda Berminat menulis di Blog Mang Yono?. Punya pengalaman unik, menarik, curahan hati. Kirimkan tulisan anda ke e-mail: blogmangyono@gmail.com atau Contact Us
Enter your email address to get update from Mang Yono.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

5 komentar

Wah tradisinya harus selalu dilestarikan :)

Balas

Wah, Tradisi yang harus di lestarikan mang. Kalo ada waktu mampir ke blog saya ya.

Balas

tradisi menanam padi seperti yang dilakukan di Subang, disebagian wilayah pertanian sepertinya udah hampir punah deh mang.
Subang emang keren euy

Balas

Tradisi baik perlu dijaga yang Mang?

Balas

Silahkan berkomentar... Nanti akan saya kunjungi balik

Copyright © 2013. Blog Mang Yono - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger