Lumbung Padi Untuk Persediaan Masa Paceklik

Assalamu'alaikum..... Sampurasun.... Rampes... 

Leuit, dalam bahasa Sunda Kuno disebut jagalanti, atau lumbung, adalah bangunan tradisional untuk menyimpan padi. Bangunan ini hanya terdapat di beberapa tempat terutama di kampung-kampung adat. 

Tapi ini saya Cuma buat leuit – leuitan hehehe, sekedar untuk penyimpanan padi/gabah kering untuk persediaan masa paceklik dan untuk menghindari tikus .


Lumbung Padi Untuk Persediaan Masa Paceklik
 Leuit / Lumbung Padi bangunan panggung walau tidak mirip leuit di kampung adat tapi masih bisa untuk tempat penyimpanan gabah kering, persediaan masa paceklik dan untuk makan sehari hari

 Pada saat paceklik tidak perlu ada kehawatiran akan terjadi rawan pangan atau kekurangan beras Di dalam leuit itulah padi disimpan, setelah melakukan pengeringan atau di jemur selama satu hari bila cuaca panas, kalau jaman waktu saya masih Olol leho ( dibaca bau ingusan hehe) nenek Mamang membuat leuit / lumbung dengan bentuk seperti limas atau dengan bentuk ke bagian atas membesar dan dindingnya menggunakan Giribig ( anyaman bambu yang tebal) dan saya masih ingat padi yang disimpan di lumbung yaitu padi kering dan masih berbentuk Geugeusan yaitu ikatan padi masih dengan tangkainya dengan cara di tumpok. 

Tapi berbeda dengan sekarang yang mamang simpan padi keringnya / gabah sudah di rontokan dari tangkai padi untuk penyimpanan di lumbung pun dengan cara di tumpahkan atau tanpa memakai karung,sudah berbeda ya hehehe... Yang penting kan untuk penyimpanan padi selain sebagai bibit juga sebagai bekal untuk makan sehari-hari, menghindari tikus, kalau di simpan di rumah kan bisa kotor juga rumahnya.
 Leuit / Lumbung Padi sengaja di bangun di halaman belakang rumah dan agak jauh dari rumah tinggal, untuk menghindari tikus dan kotor ke rumah.

Berbeda dalam kehidupan masyarakat tradisional, leuit / lumbung Padi berperan penting, bukan saja hanya difungsikan sebagai tempat penyimpanan padi, dan untuk menghindari tikus, akan tetapi juga terkait dengan ritus Dewi Sri. Di beberapa daerah, seperti Desa Rancakalong Kabupaten Sumedang, Kampung Adat Ciptagelar, Ciptamulya, Baduy, misalnya, leuit dikaitkan dengan ritus nginebkeun dan ngareremokeun, yakni upacara menyimpan bibit padi dan bentuknya juga masih seperti leuit serta atapnya menggunakan ijuk.
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar