Skip to main content

Mencari ikan di sawah” berani kotor itu baik !”

Sampuurasun.... Rampes... 

Kotor tidak selalu buruk, mencari ikan di sawah” berani kotor itu baik !”. Terutama saat anak – anak Anda menjelajahi lingkungan sekitar untuk mencari ikan di sawah, belajar, demi untuk mendapatkan pengalaman baru.  

 

 “Jangan, Yons... Gugum jangan dibolehin cari ikan disawah Mendingan suruh Corat - coret dan latihan menggambar saja di rumah. Nanti kulitnya jadi hitam. Nanti jatuh kesawah. Apa tidak bahaya main di sawah?” serentetan peringatan dari nenek dan kakeknya. Saya cuma tersenyum. Sudah saya duga pasti pada protes mendengar cucunya cari ikan disawah.



“Ibu terlalu khawatir. Gak tau mungkin dulu saya ini berpetualang dan mandi di kali setelah pulang sekolah sampai jam masuk sekolah madrasah bersama teman – teman, dengan terjun ke sungai sambil salto dan main Rarajaan dengan bugil... hehehe, karena anak jaman saya mandi dikali selalu bugil kalau anak sekarang gak ada yang begitu, karena gak ada anak yang suka mandi dikali, paling juga di kolam renang, tentunya dengan berpakaian renang tanpa bugil – bugilan eheheh ” 

“Apalagi Gugum anak cowok, perlu merasakan pengalaman yang berbeda. Beruntung saya punya sawah yang airnya tergenang terus dan banyak ikannya.

Gugum terlihat sumringah membawa jaring ikan. Ditemani Mita dan Mila anak cewek tetangga sebelah, berangkat ke sawah yang gak begitu jauh sekitar 200 meteran dari rumah saya. 

Mereka berbekal dua jaring dan satu ember utuk menampung ikan.


Saya jadi teringat  Saat mencari belut atau keong di sawah milik orang tua saya, maklum saya orang kampung yang sering bermain dan berpetualang di sawah, baju saya dan teman-teman basah dan berlumpur. Keong dan tutut sudah kami dapatkan sebanyak satu ember. Dan belutnya serentetan. kami memasak keongnya menjadi tumis keong. Dan belutnya di lemang dengan memakai ruas bambu. 


Kenangan ini begitu lekat di memori otak saya. Memori yang membuat saya merasa hidup ini adalah "milikku", saya bebas melakukan apapun. Apa yang saya lakukan membuat saya senang, teman-teman ceria dan orang tua tersenyum. Inilah rasanya telah menjadi pondasi yang kuat untuk kehidupan saya selanjutnya. Kepercayaan diri mengambil keputusan dan menikmati sumber daya yang saya miliki. Mempengaruhi orang lain dan berusaha menjadi pusat perhatian agar bisa merubah dan berbagi. 

Pada Gugum, saya terapkan hal yang sama. biarlah dia mendapatkan haknya membangun pondasi terkuat dalam hidupnya. Kebebasan memiliki dunianya, karena kelak dia akan hidup di zaman yang berbeda dari zaman yang saya hadapi sekarang ini. Sebagai orang tua saya bertugas memberikan kesempatan terindah tanpa kekangan.
Sepulang cari ikan, bajunya Gugum belepotan lumpur,  Ikan yang diperoleh dimasukkan dalam kolam di depan rumah. 

Untuk Pembelajaran berikutnya adalah perhatian dan kepedulian. Perhatian terhadap kehidupan ikan-ikannya dan peduli dengan kebersihan air kolamnya dengan teratur memberi makan ikan dan menguras air kolam. Hal ini terasa mudah karena adanya kolam di depan rumah adalah permintaan Gugum sendiri. 
Bawa ikan hasil untuk di pelihara di kolam depan Rumah



Tulisan mencari ikan di sawah” berani kotor itu baik !” tidak diikut sertakan dalam lomba .

Cuma berbagi pengalaman doang hehe...
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar