Indahnya saat ngangon Kerbau

Sampurasun .... Rampes ...

Blog Mang Yono. Apa yang ada dalam bayangan Anda – andini kalau mendengar kata ngangon? Atau malah Anda – andini tidak tahu atau belum pernah mendengar kata angon? Baiklah. Ngangon, di tempat saya, artinya mengembala. Mungkin karena itu bahasa sunda ya, saya dan sesepuh di daerah saya sudah menggunakannya sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu sampai saat ini.

Waktu saya masih kecil, mungkin sekitar umur lima atau enam tahun, saya suka ngangon kerbau bersama teman - teman angon lainnya. Banyak sih tidak, jumlahnya sekitar empat ekor, maap bukan ekornya saja ya Anda – andini, tetapi kerbau hidup 4 kerbau utuh dan hidup hehehe, jadi ribet ceritanya hehhehe. Ketika itu kerbau masih digunakan untuk membajak sawah, Nenek dan kakek punya beberapa petak sawah milik sendiri, dan beberapa milik orang lain yang harus dibajak. Kalau bukan waktu tanam padi, saya dan nenek saya diminta untuk ngangon kerbau-kerbau itu, maklum kakek sibuk ngurus pertanian. 

 
Indahnya saat ngangon Kerbau
Bernostalgia Indahnya saat ngangon Kerbau. Poto kiriman by Aki Balangantrang

Silahkan baca juga : Permainan Anak - Anak Sunda


Semua kerbau di kasih nama yaitu namanya Pahing, Kliwon, Legi dan Wage.. Dulu saya punya kerbau kesayangan. Kerbau kesayangan saya namanya Kliwon. Kerbau kesayangan saya  itu berkelamin jantan. Memang nama-nama kerbau punya kakek dan nenek diberi nama sesuai nama hari dalam hitungan kalender jawa. Setiap pulang dari ngangon saya akan duduk di atas pundak kerbau hingga sampai di rumah. Lumayan, bisa santai sekaligus tidak capek. Pastinya kalau kerbau-kerbau itu sudah habis dimandikan atau mereka sedang tidak berkubang di lumpur. Kadang kalau hari sedang hujan saya lebih baik jalan kaki saja. Selain bisa bikin gatel-gatel di badan, kalau hujan kadang kerbau juga lebih agresif, suka abret - abretan¬ alias lari gak beraturan.

Ini kakek saya apa ini saya ya?, kok mukannya mirip saya hehe
Ini kakek saya apa ini saya ya?, kok mukannya mirip saya. Poto kiriman by Aki Balangantrang

Duduk di atas punggung kerbau sambil menikmati hawa sejuk pepohonan.  Biasanya kerbau betina lebih mudah untuk ditunggangi ketimbang kerbau jantan. Lebih lagi jika kerbau betina itu adalah indukan, atau induk yang sudah cukup tua. Di antara empat kerbau kakek, ada dua indukan. Indukan kedua adalah anak pertama dari induk pertama. Saya jarang sekali menunggangi kerbau jantan, apalagi jika kerbau jantang muda. Seperti manusia juga, anak laki-laki muda yang punya gairah, lincah, dan susah di atur. 
Kalau suka ngangon badannya pasti kekar ( kekeringan hehehe)
Kalau suka ngangon badannya pasti kekar ( kekeringan hehehe). Poto kiriman by Aki Balangantrang

Saya dulu suka ngangon. Alasannya sederhana, rame, banyak temen. Di kampungku hampir sebagian besar penduduknya punya hewan ternak, seperti kerbau dan sapi. Dari ngangon ini juga saya bisa lebih akrab karena pasti ada waktu buat kumpul, ngobrol, guyon, bahkan sampe berantem juga pernah terjadi. 

Pernah juga waktu ada temen yang bawa ayam, kemudian dibakar. Karena hanya ada satu ayam, sedangkan anak-anak angon ada banyak, mereka yang lebih dewasa memutuskan untuk mengambil ubi di kebun orang. Aku juga pernah ikut membantu. Yah, demi temanlah. Hahaha. Setelah selesai makan baru temen yang bawa ayam itu cerita, ayam yang dia bawa hasil nagkap di jalan ... # Semprul dah hehehe.

Pernah  juga pengalaman paling apes yang pernah kami alami ketika mengambil  buah rambutan di pohon katanya milik salah satu temen ngangon. Pas saya naik dan mengambil buah – buah rambutan dan menjatuhkan buah – buahnya temen ngangon saya pada kocar – kacir, saya pikir kerbaunya pada kabur, setelah saya turun, eh ada bapak – bapak melotot, terus saya tanya , kenapa mang melotot, heran ya saya bisa naik pohon rambutan?. Eh, ternyata dia pemilik pohon rambutan itu. # Semprul dah temen saya itu.
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar