Gasing / Gangsing / Panggal adalah permainan Nusantara, Indonesia

Sampurasun ... Rampes...

Blog Mang Yono. Gasing / Gangsing / Panggal adalah permainan Nusantara, Indonesia. Orang sunda bilang Panggal, Gangsing merupakan sejenis permainan dimainkan secara berputar. 

Gangsing merupakan permainan tradisional. Sebelumnya Blog Mang Yono pernah menulis juga tentang Adu Permainan gangsing atau panggal. Ya sudah, ini untuk pelengkap tulisan sebelumnya hehehe. Gangsing dibuat dari kayu, kayu tersebut dikikis sedemikian rupa sehingga menjadi bentuk gasing atau ada juga yang menggunakan bubutan / mesin bubut. Tali Gangsing dibuat dari kain yang dirara atau dipilinada juga tali Gangsing dibuat dari tali nilon. Panjang tali Gangsing biasanya tergantung kepada panjang tangan seseorang atau tinggi pendek postur tubuhnya, umumnya panjangnya 1 meter.

Gasing / Gangsing / Panggal adalah permainan Nusantara
Panggal / Gangsing Anak saya

Kayu yang bagus untuk Gangsing atau kayu yang paling sesuai adalah kayu manggis, jambu batu , Kayu Asem, Kayu Jeruk , kayu kosambi, kayu harikukun, ciku atau asam jawa sering digunakan untuk membuat Gangsing.

Baca : Kegiatan Anak Di Hari Libur

Cara memainkan Gangsing dimainkan dengan dua cara, yaitu sebagai Gangsing pangkah atau Gangsing uri. Gangsing pangkah, dimainkan dengan melemparkannya supaya mengetuk / membantingGangsing lawan. Gangsing uri dipertandingkan untuk menguji ketahanan berputar siapa yang tahan lama itu yang menang... wooy, maksudnya tahan lama berputar hehehe.
Gasing / Gangsing / Panggal adalah permainan Nusantara, Indonesia

 Panggal / Gangsing Anak saya dengan pembuatan di bubut

Untuk memutar Gangsing, tali setebal 1.75 cm dan sepanjang 1 hingga 1,5 meter dililitkan pada jambulnya atau leher kepalanya hingga meliputi seluruh permukaan Gangsing. Kemudian Gangsing itu dilemparkan ke atas tanah atau bisa juga dengan cara membantingnya dengan itu tali yang melilit jambuhnya direnggut.

Gangsing merupakan salah satu permainan tradisional Nusantara, walaupun sejarah penyebarannya belum diketahui secara pasti darimana daerah asalnya. Permainan ini dilakukan oleh anak-anak dan orang dewasa kalau kakek - kakek jangan deh, nanti malah ngos – ngosan eheheh. Biasanya, dilakukan di pekarangan rumah yang kondisi tanahnya keras dan datari batu atau rumput. Permainan gasing dapat dilakukan secara perorangan ataupun beregu dengan jumlah pemain yang bervariasi, menurut kebiasaan di daerah masing-masing. Hingga kini, gangsing masih sangat populer dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia.

Di sejumlah daerah memiliki istilah berbeda untuk menyebut gangsing. Masyarakat Jawa Barat dan DKI Jakarta menyebutnya gangsing atau panggal. Masyarakat Lampung menamainya pukang, warga Kalimantan Timur menyebutnya begasing, sedangkan di Maluku disebut Apiong dan di Nusatenggara Barat dinamai Maggasing. Hanya masyarakat Jambi, Bengkulu, Sumatera Barat, Tanjungpinang dan Kepulauan Riau yang menyebut gasing.

Nama maggasing atau aggasing juga dikenal masyarakat bugis di Sulawesi Selatan. Sedangkan masyarakat Bolaang Mangondow di daerah Sulawesi Utara mengenal gangsing dengan nama Paki. Orang jawa timur menyebut gangsing sebagai kekehan. Gangsing memiliki beragam bentuk, tergantung daerahnya. Ada yang bulat lonjong, ada yang berbentuk seperti jantung, kerucut, silinder, juga ada yang berbentuk seperti piring terbang. Gasing terdiri dari bagian kepala, bagian badan dan bagian kaki (paksi). Namun, bentuk, ukuran dan bagian gasing, berbeda-beda menurut daerah masing-masing.


Cara memainkan gangsing, tidaklah sulit. Yang penting, pemain gangsing tidak boleh ragu - ragu dan setengah – setengah saat melempar gangsing ke tanah.

Caranya sebagai berikut:
1.Gangsing di pegang di tangan kiri, sedangkan tangan kanan memegang tali.
2.Lilitkan tali pada leher gangsing, lilit kuat lalu putar atau bantingkan


Baca juga :
Gasing / Gangsing / Panggal adalah permainan Nusantara, Indonesia
Permainan Egrang Atau Jajangkungan
Permainan Tradisional Gatrik
Permainan Engklek Atau Emprak 
Permainan Kelereng Permainan Yang Terlupakan
Permainan Perepet Jengkol
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar