Membasuh lelah dengan pemandangan sawah

Sampurasun ... Rampes.

MANGYONO.com - Membasuh lelah dengan pemandangan sawah

Mungkin banyak orang berbangga diri hidup di kota metropolitan. Mungkin saja banyak orang merasa paling beruntung karena tinggal di kota yang serba ada dan serba maju....

Tapi bagi saya tak ada tempat seindah tempat di pedesaan, di mana saat kaki menginjak tanahnya seketika itu luntur segenap kelelahan jiwa.... Byuuur, segala permasalahan lupa seketika... Itulah desa. Pemandangan indah di pesawahan. Tempat inilah yang selalu saya tuju jika harus "melarikan diri" dari kesemrawutan kota Metropolitan. 

Membasuh lelah dengan pemandangan sawah
 Membasuh lelah dengan pemandangan sawah

Tak perlu jauh untuk memulai mencari keindahan itu karena persis 200 Meter depan rumah saya atau 20 Meter dari rumah kakek bentangan sawah berlatar pepohonan hijau begitu nyata. Di sawah matahari terbit akan langsung berhadapan dengan mata. Sungguh menyenangkan. 

Sorot matahari pagi menyinari tanaman padi di persawahan. Tepat di sana rumah kakek dan nenek berdiri dan bangunan sederhana. Di tepian sawah sejumlah petani siap menjaga tanaman padi yang hampir menguning. Selanjutnya saya memulai memasuki persawahan. Berjalan pelan menyisir pematang sawah, aliran air di selokan kecil mengular menuju petak-petak sawah. Beningnya memancarkan kesegaran. Sejuknya pagi semakin menyentuh berkat kabut yang masih menggantung menyisakan butiran-butiran embun di ujung daun padi. Saya kerap menemukan kupu-kupu di balik dedaunan itu. Mungkin ia baru bangun tidur. Cantik sekali. Indahnya pedesaan semakin cantik dipagi hari kala embun masih menetes, saat kupu-kupu baru bangun tidur di balik dedaunan. 

Saung sawah sementara, untuk berteduh
Saung sawah sementara, untuk berteduh

Wajah-wajah para petani terlihat hangat seolah tak mengenal beratnya dan pahit getirnya kehidupan yang sering orang lain keluhkan. Biasanya saya juga duduk di sebuah “saung sawah sementara” di atas sungai kecil yang mengalir di pinggir sawah 

Tanaman padi sudah berbulir hijau, saung sawah pinggir sunga
Tanaman padi sudah berbulir hijau, saung sawah pinggir sunga

Puas pinggir sawah saya beranjak menapaki pematang-pematang sawah untuk mengusir burung – burung yang memakan bulir padi atau ke arah para petani lain yang sedang menjaga tanaman padi dari serangan burung pipit. Melihat ada orang yang mendekat sambil membawa kamera para petani desa itu biasanya akan berkata “asiik deuk difoto euy”. Itu pertanda bagus karena artinya mereka tak keberatan diamati pekerjaannya. 

Petani menunggu dan menjaga tanaman padi dari hama burung pipit
Petani menunggu dan menjaga tanaman padi dari hama burung pipit

Pergi ke sawah selalu menyenangkan bagi saya. Tempat ini selalu berhasil mengembalikan senyum yang direnggut oleh semrawutnya kota. Panorama dan rasa kehidupan yang tersaji adalah sebuah keindahan yang mahaaaaal. 

Baca juga : 
Petani Pagaden Barat tetap kerja keras demi tanaman padi.
Vidio : Cara mengusir burung pipit di sawah dengan plastik
Burung pipit serang tanaman padi di Cibandung, Subang
Pestisida untuk penyemprotan tanaman padi
Dosis penyemprotan tanaman padi
Waktu untuk penyemprotan tanaman padi
Pita plastik pengusir burung pipit di sawah  

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar